Penulis: Henry Yuda Oktadus | 17 Oktober 2025
Banyak orang beranggapan bahwa terlibat dalam kegiatan musikal dengan beragam bentuknya dapat membawa kesenangan, baik itu mendengarkan maupun memainkan alat musik. Anggapan ini ada benarnya karena pada faktanya musik begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tempat-tempat kursus hingga pendidikan jalur formal kini banyak tersedia bagi mereka yang ingin lebih serius dan terampil dalam kegiatan musik. Di samping itu, musik juga menjadi salah satu pokok pelajaran yang wajib dilaksanakan dalam pendidikan umum.
BACA JUGA : MENGAPA ORANG MENDEGARKAN MUSIK
Berbicara secara khusus dalam konteks pendidikan umum, pelajaran musik memiliki karakteristiknya sendiri di samping lembaga pendidikan non formal yang menawarkan jasa pelatihan untuk terampil bermain alat musik. Mata pelajaran musik di sekolah formal tidak bertujuan membuat para siswa untuk terampil memainkan alat musik tertentu semata. Sekolah formal sebagai institutsi masyarakat berfungsi sebagai perpanjangan tangan masyarakat yang secara khusus ditunjuk untuk mempersiapkan calon generasi penerus sebelum masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat (Dewey). Sehingga sekolah juga tentang pewarisan nilai-nilai dan keyakinan yang selama ini berlaku secara kolektif demi terciptanya kehidupan kolektif yang demokratis. Di samping itu mereka juga akan mewarisi keterampilan dan pengetahuan yang berguna dalam mempersiapkan masa depan dan memperbesar peluang mereka untuk mendapat kehidupan yang layak.
Salah satu dasar pijakan yang diacu untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan semacam itu dapat kita lihat pada P21’s Framework for 21st Century Learning, yaitu sebuah kerangka pendidikan dari organisasi Partnership for 21st Century Learning di Amerika Serikat. Kerangka tersebut merupakan acuan bagi para pembuat kebijakan dan pelaku pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan yang relevan dengan tantangan global saat ini. Menurut kerangka tersebut akumulasi pengetahuan yang ditabung sedemikian banyak dalam kepala peserta didik bukan lagi penekanan utama. Melainkan beberapa keterampilan seperti kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan penggunaan teknologi.
Kerangka ini juga mencakup beberapa tema bidang ilmu seperti sains, ekonomi, matematika, sejarah, seni dan lain sebagainya namun tema-tema ini harus diberikan dalam konteks keterampilan yang tersebut di atas. Sebaliknya, bukan menjejali ingatan peserta didik dengan materi yang didikte oleh guru dan menjadi bertolak belakang dengan tujuan utama. Maka model pembelajaran musik satu arah yang hanya menekankan hafalan berbagai informasi mengenai musik sudah tidak lagi relevan.
BACA JUGA : DILEMA PENDIDIKAN MUSIK INDONESIA (1945-2007)
Berkenaan dengan itu, model pembelajaran musik di jalur formal juga memerlukan reformulasi kurikulum agar lebih sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan abad ini. Banyak edukator musik yang melihat aktivitas musik yang menyenangkan dapat membawa implikasi pada aspek pertumbuhan lain di samping meningkatnya keterampilan musikal itu sendiri. Misalnya Jacobi (2012) yang menguraikan bagaimana aktivitas musik berkelompok yang interaktif dan kolaboratif memiliki peluang untuk mempengaruhi keterampilan sosio-emosional peserta didik. Dalam uraiannya ia menerangkan bahwa musik berasosiasi dengan emosi dan seringkali keterampilan sosio-emosional adalah efek yang dapat diamati dari keterampilan musik berkelompok. Akan tetapi ketahanan dan tingkat perkembangannya akan lebih terjamin jika muatan keterampilan itu diberikan secara tersetruktur dan sistematis sebagaimana merancang perkembangan keterampilan musik.
Menurut Jacobi, hasil yang diharapkan seperti munculnya motivasi dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama, tanggung jawab personal terhadap kelompok, kemauan untuk menghadapi tantangan, keterbukaan terhadap pendapat orang lain adalah beberapa hal yang berkaitan dengan aktivitas membuat musik bersama. Pandangan ini melihat bahwa kegiatan membuat musik berkelompok dapat difungsikan sebagai lingkungan yang mengarahkan tindakan kolektif dan menuntun terjadinya sinkronisasi antar individu, niat bersama, dan efektivitas kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain, kegiatan musik berkelompok yang dirancang sedemikian rupa dapat menyediakan lingkungan yang optimal bagi perkembangan sosio-emosional peserta didik.
Begitu juga dengan kemampuan lain seperti kreativitas. Studi oleh Sovansky, dkk. (2014) mengungkapkan bahwa individu yang secara aktif terlibat membuat musik memiliki kemampuan berpikir divergen yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak terlibat dalam aktivitas tersebut. Hal itu menyiratkan bahwa berpikir divergen merupakan satu komponen kunci yang harus ada dalam aktivitas musik jika hendak difungsikan sebagai cara pembelajaran kreativitas.
Beberapa uraian di atas sesungguhnya menunjukkan bahwa di samping kegiatan musik yang sejak awal dapat menarik minat para peserta didik, struktur dan corak pembelajaran musik mesti diformulasikan sesuai tujuan yang hendak dicapai. Bukan musik itu sendiri yang dapat memberikan dampak positif terhadap aspek-aspek perkembangan peserta didik, namun lebih pada muatan kognitif dari aktivitas musik yang dapat dirancang sedemikian rupa untuk memfasilitasi pembelajaran baik musikal, psikologis, dan sosial.
Referensi
Abstraksi Magazine ini memuat wawasan mendasar tentang pelaku-pelaku musik, khususnya pendengar dan pemain musik, serta hal-hal yang mereka lakukan dalam kegiatan musikal.
Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.