Musik dan Bahasa, Kemampuan Unik hanya Milik Manusia

Henry Yuda Oktadus | 13 April 2026

Musik dan Bahasa, Kemampuan Unik hanya Milik Manusia

Di suatu pagi menjelang siang seorang anak laki-laki berusia 3 tahun tertegun di halaman belakang rumahnya. Sejak beberapa saat yang lalu, tanpa ada alasan yang pasti ia mengikuti dan menemani ibunya di sana yang sedang mencuci barang pecah belah selepas sarapan pagi. Si anak memang paling dekat dengan ibunya dan kebetulan tidak ada orang lain di rumah karena si bapak sedang mencari nafkah untuk menyambung hidup keluarga kecil tersebut. Mereka tinggal di suatu pedesaan yang terletak di sekitar Jawa Tengah. Pagi itu kebetulan lewat seekor anak ayam yang terpisah dari induknya, berjalan kebingungan di sekitar sana dan menciap sepanjang waktu. Anak ayam itu menarik perhatian anak laki-laki itu. Ia memperhatikannya dengan pandangan yang lekat pada anak ayam yang hilang itu selama beberapa waktu. Tak lama waktu berselang anak pun bertanya, “Bu, niku napa?” (Bu, itu apa?). “Kui jenenge kuthuk” (itu anak ayam), sambut si ibu yang menjawab dengan nada datar sembari terus melakukan aktivitasnya. “Niku kuthukipun piyambakan” (itu anak ayamnya sendirian), sahut si anak.

Bahasa dan Penyimbolan Realitas

Percakapan di atas antara seorang anak dengan ibunya merupakan adaptasi dari potongan cerita sebuah esai. Namun dengan maksud menggunakannya sebagai ilustrasi pembahasan yang berbeda. Cerita ini mengilustrasikan kemampuan anak manusia dalam mengkodekan realitas yang dilihatnya ke dalam simbol suara dari sedemikian kombinasi dan pengaturan hingga menjadikannya kata yang memiliki makna. Fenomena ini terlalu lazim kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari hingga membuat si ibu dari anak tersebut menjawab dengan cara yang sangat biasa tanpa merasa ada yang spesial. Namun jika kita renungkan kembali, di dunia ini ternyata hanya manusia yang memiliki kapasitas untuk menyimbolkan realitas tanpa harus membawa serta barang yang dimaksud.

LIHAT JUGA : MUSIK ADALAH BAHASA

Benar bahwa hewan-hewan seperti perimata dan burung menampilkan penggunaan ekspresi suara namun ekspresi-ekspresi tersebut sangat terbatas jumlahnya dan langsung mengarah pada fungsi kelangsungan hidup, misalnya sebagai cara untuk menarik lawan jenis dan memberi sinyal pada kelompok akan adanya bahaya. Sedangkan manusia dengan kombinasi yang sangat kaya telah mengembangkan ekspresi suara yang bermakna komunikasi pada tingkat yang jauh lebih kompleks karena hampir setiap benda dapat dikodifikasi. Bukan hanya barang konkrit saja yang dapat diutarakannya melalui simbol-simbol suara dan visual (tulisan), melainkan juga realitas yang lebih bersifat abstrak seperti ide tentang ‘identitas’, ‘nasionalisme’, atau realitas psikologis seperti pengalaman emosi yang bermacam-macam itu. Tingkat selanjutnya ialah pengkategorian simbol-simbol yang dibagi menurut fungsi seperti kata kerja, kata benda, kata sifat, dan seterusnya yang selanjutnya dapat dipelajari dalam ilmu linguistik. Dengan kemampuan kompleks tersebut, manusia dapat berkomunikasi satu sama lain saling bertukar informasi, ide, dan mengembangkan pemahaman bersama mengenai dunia di sekitarnya.

Melodi dan Makna Artistik

Tetapi, bahasa verbal bukan satu-satunya kemampuan yang membuat manusia unik di antara yang lain. Perilaku musikal yang kompleks juga hanya bisa kita amati terjadi pada manusia. Serupa dengan ekspresi suara yang ditampilkan perimata dan burung, ekspresi suara bagi mereka lebih bermakna komunikasi dalam fungsi yang spesifik berkaitan dengan kelangsungan hidup dan tidak ada makna estetis di sana.

Burung Hermit Thrush dan Nightingale yang paling dianggap musikal misalnya, mereka dikenal dengan kicauan yang tingkat kompleksitasnya mendekati melodi pada musik. Dengan variasi interval pitch yang kaya dan struktur yang simetris, perilaku tersebut seperti menampilkan kemampuan musikal yang baik. Namun kesan tersebut lebih didorong oleh persepsi manusia yang memang memiliki kapasitas kognitif untuk pemahaman musikal. Sedangkan dari studi biologi, kicauan bagi mereka sendiri lebih merupakan perilaku yang dikembangkan untuk fungsi adaptif tertentu. Misalnya sebagai sinyal untuk menarik perhatian calon pasangan, untuk menunjukan kondisi kesehatan, menunjukan kualitas genetik di mana semakin kompleks kicauan dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan pasangan.

Apakah kedua kompetensi ini bersama-sama menandai keunikan manusia secara kebetulan?

Mengingat kekhususan kemampuan bahasa dan musik pada manusia, studi evolusi mencoba memperkirakan kemampuan mana yang lebih dahulu dikembangkan selama evolusi kognitif. Ada kelompok yang mengemukakan bahwa kemampuan bahasa dikembangkan terlebih dahulu karena bahasa memiliki kompleksitas yang tidak ditemukan pada musik (Noam Chomsky, Steven Pinker, Ray Jackendoff). Di samping itu ada kelompok yang berpendapat bahwa kemampuan musikal berkembang lebih dulu karena komunikasi emosi yang melibatkan elemen musikal seperti intonasi dan ritmis mendahului komunikasi verbal (Steven Mithen, Ellen Dissanayake, Robin Dunbar).

Perdebatan yang sulit untuk dipastikan dari studi evolusi justru memunculkan pertanyaan lanjutan apakah kemampuan bahasa dan musikal dapat berdiri sendiri-sendiri atau salah satunya merupakan konsekuensi dari diperolehnya salah satu kemampuan itu. Hingga muncul kelompok akademisi lain yang justru lebih tertarik melihat seberapa jauh keterikatan kemampuan keduanya dalam sistem syaraf manusia untuk menjawab pertanyaan apakah musik dan bahasa berevolusi dari sistem komunikasi vokal yang sama (Steven Brown, Aniruddh Patel, Tecumseh Fitch). Pertanyaan ini dianggap lebih realistis untuk dijawab dengan pengujian-pengujian yang dapat dilakukan menggunakan peralatan yang tersedia saat ini.

Keterikatan Pemrosesan Musik-Bahasa dalam Sistem Kognitif

Patel dalam artikelnya ‘Language, Music, Syntax and the Brain (2003)’ telah mengklarifikasi keterikatan keduanya dalam sebuah hipotesis yang ia ajukan yaitu Shared Sintactic Integration Resource Hypothesis (SSIRH). Ia tidak berusaha menunjukan keterikatan penuh antara kemampuan musik dan bahasa yang diproses dalam jaringan syaraf, melainkan hanya sebagian. Hal itu disebabkan adanya kasus bahwa orang yang menderita amusia tidak terganggu kemampuan bahasanya, sebaliknya orang yang menderita afasia juga ada yang dapat memainkan piano tanpa terganggu. Mengingat adanya fakta tersebut kesimpulannya dibangun berdasarkan dugaan bahwa ada dua tugas yang berbeda di mana salah satunya terkait dengan domain spesifik dan yang lainnya lebih bersifat umum, yaitu tugas representasi dan tugas pemrosesan

Musik dan bahasa diwujudkan dalam durasi, di mana masing-masing memiliki unit-unit struktural dan aturan mainnya sendiri. Bahasa memiliki kata, gramatika, morfologi, semantik; sedangkan musik memiliki motif, interval, harmoni, progresi akor, tonalitas. Unit-unit dan aturan main masing-masing tersebut lebih bersifat domain spesifik (representasi) di mana wawasan manusia tentang keduanya direpresentasikan pada bagian otak tertentu. Akan tetapi pemrosesan integrasi unit-unit menurut aturan masing-masing hingga seseorang dapat mengenali stimulus yang diberikan harus dibangun secara berurutan. Dalam hal ini musik dan bahasa (tuturan lisan khususnya) tumpang tindih hanya sejauh melibatkan syaraf yang bertugas untuk mengintegrasikan stimulus yang strukturnya sama-sama bersifat temporal (pemrosesan).

Berdasarkan hipotesis yang diajukan Patel di atas, dapat diketahui bahwa keterikatan kemampuan musik dan bahasa sama-sama difasilitasi oleh syaraf yang bertanggung jawab mengintegrasikan stimulus temporal. Lebih khusus lagi stimulus temporal akustik karena keduanya beroperasi melalui sistem sensorik auditif. Sehingga dapat dipastikan jika seseorang mengalami gangguan sistem syaraf yang bertugas dalam memproses struktur temporal yang penting bagi musik dan bahasa, maka ia dapat kehilang kedua kemampuan tersebut.

Konkekuensi lebih lanjut, jaringan syaraf yang bertugas dalam pemrosesan struktur temporal pada musik dan bahasa ini berimplikasi pada permosesan sintaksis pada bahasa dan musik yaitu pemrosesan urutan unit-unit membentuk kesatuan yang bermakna. Misalnya kalimat dalam bahasa yang tersusun dari beberapa kata mengikuti aturan tata bahasa, begitu juga kalimat musik yang tersusun dari motif dan frase berdasarkan prinsip komposisional. Tumpang tindih dalam jaringan syaraf yang memproses kedua domain ini terbukti dari adanya pengaruh positif kemampuan musikal terhadap pemrosesan elemen musik pada tuturan lisan yang penting bagi pemerolehan kompetensi bahasa.

Worksheet ini bertujuan untuk membantu kita agar lebih peka terhadap element-element utama musik ketika kita mendengarkan musik.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.