Henry Yuda Oktadus | 20 Mei 2026
Secara alamiah, karakteristik perilaku individu dicirikan menurut tahap perkembangan tertentu. Hal itu disebabkan karena perilaku manusia merupakan hal yang erat berkaitan dengan tingkat kematangan fisik dan mental. Setiap jenjang usia dalam psikologi perkembangan itu memiliki karakteristik kognitif atau kehidupan internal yang berbeda-beda karena bergantung pada kematangan biologis. Mulai dari bayi sampai dengan dewasa. Ada beberapa tokoh psikologi yang membagi kategori umur berdasarkan gagasannya masing-masing. Berkenaan dengan hal itu, tulisan ini terbatas dan hanya merujuk pada rentang pembagian umur yang diuraikan oleh Jean Piaget. Piaget membagi tahap perkembangan anak umumnya dalam empat tahap kognitif. Tahap pertama sensori motor (0-2 tahun), pra-operasional (2-7 tahun), operasional konkret (7-11 tahun), operasional formal (11 tahun ke atas).
Berbagai macam kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu akhirnya dapat digolongkan dan disesuaikan berdasarkan tahap perkembangan, tidak luput dari itu aktivitas musik. Musik dalam konteks perkembangan diartikan sebagai stimulus eksternal yang dapat mendorong bertumbuhnya aspek-aspek psikologis maupun sosial yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi individu saat ini sebagai anak-anak maupun kelak sebagai orang dewasa.
BACA JUGA : DILEMA PENDIDIKAN MUSIK INDONESIA (1945-2007)
Secara kognitif, anak-anak usia 0-7 tahun adalah masa di mana anak-anak berada dalam tahapan mengenali dunia di sekitarnya (lingkungan fisik & sosial) dan relasinya dengan dirinya. Sehingga aktivitas fisik dan imitasi adalah ciri utama kehidupan internal anak yang sangat dekat asosiasinya dengan aktivitas bermain. Sehingga pendidikan dalam arti pelatihan tumbuh kembang untuk anak pada rentang usia tersebut adalah dengan bermain. Tetapi pertanyaannya adalah bagaimana musik dapat berperan sebagai media bermain dalam konteks perkembangan ini? Dengan kata lain bagaimana aktivitas musik dapat memfasilitasi anak dalam rangka mengenal dunia di sekitarnya?
Jawaban dari pertanyaan di atas adalah dengan kembali mengingat bagaimana cara anak mengembangkan pemahamannya atas realitas, yaitu dengan melibatkan permainan simbolik atau permainan representasi. Permainan simbolik atau representasi ini adalah proses yang harus dilalui anak untuk mempersiapkan dirinya masuk ke tahap selanjutnya yang sangat bergantung pada pemahaman bahasa. Bahasa sendiri memisahkan antara representasi (kata/kalimat) dengan pengalaman konkret dan dapat berdiri sendiri untuk digunakan dalam percakapan. Namun untuk dapat menggunakannya, seorang manusia perlu mengembangkan apa yang disebut citra mental atau internalisasi pengalaman menjadi sebuah kontruk mental. Sehingga sebelum masuk ke sana, anak-anak pada tahap sensori motor perlu mempersiapkan diri dengan pengembangan citra mental yang dibangun dari aktivitas sensori motor, khususnya melalui perilaku imitasi. Anak-anak di tahap pra operasional telah memiliki kemampuan motorik yang cukup untuk melakukan berbagai macam permainan imitasi.
Permainan simbolik ini merupakan cara yang sangat digemari anak-anak untuk meregulasi diri mereka ketika mulai banyak bersinggungan dengan dunia bahasa (dunia orang dewasa) yang tidak dipahami mereka. Perilaku ini dapat kita ilustrasikan pada permainan ‘pura-pura tidur’ yang sering dilakukan anak-anak. Mereka mungkin pada satu tahap sudah mengenal kata ‘tidur’, tetapi belum paham makna operasionalnya. Mereka hanya dapat mengasosiasikan kata ‘tidur’ dengan tindakan ‘tidur’. Dalam pengembangan pemahaman kata ‘tidur’, anak-anak senang mensimulasikan atau mengimitasi perilaku ‘tidur’ dengan teman-teman sebaya atau orang dewasa di sekitarnya (bermain). Sehingga imitasi sebenarnya adalah representasi atau cara penyimbolan dalam perbuatan fisik, namun belum dalam pikiran.
Dengan melakukan imitasi, seroang anak sedang menginternalisasi secara sensori motor untuk membangun citra mental di mana penggunaan bahasa sangat bergantung padanya. Kunci dari imitasi atau penyimbolan lewat perilaku (penanda) ini terletak pada penggunaan fitur kemripan dengan hal yang disimbolkan (yang ditandai) meskipun seringkali lebih bersifat arbitrer dan bebas disesuaikan dengan kesenangan anak.
Musik bisa diartikan dan difungsikan sebagai sarana ekspresi auditif. Kapasitasnya untuk difungsikan sebagai ekspresi penyimbolan bergantung pada kapasitas asosiatif antara suara dengan realtias yang akan disimbolkan. Namun dari mana suara memperoleh kapasitas semacam itu? Pengalaman sensori motor kita mengajarkan bahwa gerak fisik seringkali diikuti dengan artefak suara sebagai konsekuensi dari hukum fisik. Banyak kejadian di sekitar kita yang bisa mengilustrasikan hal ini. Misalnya saja, adanya pohon Cemara berumur kurang lebih 20 tahun yang tumbang karena diterpa angin besar. Jatuhnya pohon dengan bobot yang massif ini akan diikuti dengan dentuman bunyi frekuensi rendah yang besar. Terbentuknya persepsi orang tentang jatuhnya pohon Cemara raksasa ini dimediasi beberapa informasi dari sejumlah modalitas, yaitu visual, kinestetik, dan auditif. Informasi dimensi benda diperoleh dari visual begitu juga kecepatan jatuhnya, sedangkan perkiraan tentang bobot diperoleh dari pengalaman kinestetik, dan gabungan dari beberapa kombinasi faktor fisik ini berakibat pada karakteristik bunyi yang sedemikian rupa. Dari pengalaman sensori benda-benda yang dijumpai setiap hari, terbentuklah hubungan asosiasi antar informasi sensori. Berdasarkan pemahaman asosiatif inilah, suara sebagai alat ekspresi dalam musik memiliki kapasitas asosiatifnya.
Dari sini kita dapat merancang aktivitas musik menjadi sebuah aktivitas permainan simbolik atau imitasi. Musik dalam konteks ini, dapat berfungsi sebagai media permainan simbolik **dan imitasi mereka, yang dikemas dalam satu skenario permainan. Dalam hal ini kita bermaksud menawarkan rancangan aktivitas musik sebagai wahana perkembangan. Sehingga harapannya aktivitas musik ini bisa membantu anak-anak mengembangkan pemahaman mereka terhadap suatu hal, benda, atau peristiwa yang dijumpai sehari-hari. Sehingga coraknya musik di sini menjadi sangat asosiatif dengan hal-hal yang sering dijumpai di sekitar mereka.
Beberapa ide yang bisa dieksplorasi misalnya: Satu, Musik sebagai simbol benda-benda dan peristiwa alam. Di situ karakteristik suara dari berbagai instrumen bisa dimanfaatkan. Misalnya marakas yang gemrisik bisa diasosiasikan dengan hujan, bunyi bass drum yang beraksen dan berfrekuensi rendah yang bisa untuk mewakili suara langkah hewan besar (gajah, dinosaurus, dst.), register rendah suara tuba yang dalam, berat dan bulat bisa untuk mewakili datangnya gajah.
Dua, musik sebagai simbol peran. Tempo dan pola ritme gallop yang cepat bisa untuk merepresentasi lari kuda, tempo lambat dengan artikulasi tertentu bisa merepresentasi jalannya kura-kura. Jadi di sini musik bisa jadi pemicu imajinasi simbolik untuk mengkonotasikan peran-peran dari ‘karakter’ tertentu.
Tiga, musik bisa untuk simbolisasi cerita seperti dalam musik-musik programatik. Misal kita bisa bikin cerita yang berangkat dari pengalaman atau imajinasi anak-anak sendiri. Dari sana kita kemudian bikin yang namanya leitmotif (motif atau frase pendek yang muncul berulang) yang berasosiasi dengan karakter orang, hewan, atau suasana tempat. Bisa eksplorasi suasana-suasana yang mau dibangun juga dalam cerita dan mau diwakilkan dengan pengaturan suara yang bagaimana, kira-kira yang paling dekat. Anak-anak juga boleh ikut menentukan mereka paling suka simbolisasi suara yang seperti apa.
Empat, musik bisa jadi simbolisasi emosi. Minor scale dengan tempo lambat misalnya, bisa digunakan untuk menyimbolkan suasana atau karakter yang sedang berduka. Tapi minor scale dengan suara yang keras dan cepat dengan aksen kuat justru berasosiasi dengan kemarahan.
Panduan ini memuat wawasan mendasar tentang latihan beserta langkah-langkah penerapan cara berlatih yang efisien dan efektif untuk memperoleh keterampilan musikal yang optimal.
Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.