DESAIN ERGONOMI INSTRUMEN UNTUK KENYAMANAN BERMUSIK

Bermula dari isu tentang pentingnya keselamatan kerja kini konsep ergonomi banyak diterapkan untuk pengembangan produk industrial yang menekankan kenyamanan pengguna. Pada awalnya konsep ergonomi mulai digagas karena banyaknya kecelakaan kerja yang terjadi di era awal industri. Saat itu adalah periode di mana teknologi mesin baru gencar diterapkan untuk produktivitas masal. Teknologi produksi masal yang baru gencar saat itu mengharuskan para pekerja bekerja secara reperititif untuk satu tugas spesifik dalam waktu yang panjang. Cara kerja yang baru terbentuk tersebut ternyata banyak menimbulkan cedera, kelelahan, dan kecelakaan pada para pekerja. Permasalahan tersebut ditimbulkan karena desain alat kerja yang kurang disesuaikan dengan kapasitas kerja manusia.

Istilah “ergonomi” baru secara resmi lahir dari bidang militer dan menjadi perhatian pada masa Perang Dunia II (Inggris). Para ahli desain yang bekerja untuk kemiliteran Inggris diminta untuk merancang teknologi dan desain kokpit pesawat tempur dengan mempertimbangkan keterbatasan manusia.

DESAIN ERGONOMI, DARI KESELAMATAN KE KENYAMANAN PENGGUNA

Seiring berkembangnya waktu, karena kelebihannya dalam hal ramah pengguna, desain ergonomi juga mulai diterapkan pada produk-produk peralatan sehari-hari seperti meja kursi kantor, kendaraan bermotor, smartphone, hingga instrumen musik. Pada saat itulah nilai desain ergonomi tidak lagi hanya soal keselamatan kerja tetapi juga memperhatikan kenyamanan, produktivitas, hingga kesejahteraan psikologis pengguna dengan penyesuaiannya terhadap anatomi dan kapasitas otot manusia. Meskipin demikian desain ergonomi masih mempertahankan prinsip umumnya dalam hal keselamatan serta efisiensi gerak & waktu.

Banyak aktivitas manusia yang kualitas kinerjanya ternyata sangat bergantung pada aspek ergonomi. Beberapa investigasi telah mengkonfirmasi bahwa aspek ergonomi dalam lingkungan kerja (Masterizki, dkk., 2019) serta peralatan yang digunakan (Yusuph & Alman, 2024) mempunyai hubungan dan efek positif dengan kualitas kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan effisiensi penyelesaian tugas. Sehingga desain ergonomi memang mempunyai nilai tersendiri jika diterapkan pada setiap aktivitas termasuk dalam hal ini bermusik.

DESAIN ERGONOMI PADA INSTRUMEN MUSIK

Beberapa tahun belakangan ini desain ergonomi dianggap cukup vital penerapannya dalam bermusik, terutama jika melihat corak aktivitasnya yang banyak dilakukan dalam posisi berdiri. Pada kemasan pertunjukan musik industri, hampir setiap musisi memainkan instrumen dalam posisi berdiri. Corak pertunjukan yang sedemikian rupa mengharuskan para musisi menahan bobot instrumen yang mereka mainkan dalam durasi yang cukup lama. Khususnya dalam hal ini gitaris dan pemain bas elektrik. Beberapa permasalahan yang kerap dialami karena hal tersebut misalnya nyeri pergelangan pada tangan, punggung, dan bahu.

Berdasarkan beberapa masalah yang seringkali dialami itu para perancang instrumen musik industri sejak beberapa dekade terakhir banyak yang telah menerapkan prinsip ergonomik. Beberapa aspek yang biasanya dimodifikasi untuk penerapan ergonomi misalnya kontur pada badan gitar (body contour) yang dibuat mengikuti bentuk tubuh pemain. Hal itu telah dilakukan oleh Leo Fender yang mengembangkan body gitar dan bas elektrik model Stratocaster sejak tahun 1954. Selain itu body gitar juga dirancang ulang agar memiliki bobot seimbang dengan total berat yang lebih ringan agar tidak membebani tubuh pemain. Pada neck dan fret, aspek ergonomi juga diterapkan untuk membuat penempatan fret, ketebalan neck, dan radius fingerboard sesuai dengan kapasitas anatomi tangan musisi.

REKONTEKSTUALISASI DESAIN ERGONOMI GITAR UNTUK PENGGUNA DI INDONESIA

Di balik semua inovasi ergonomi pada instrumen gitar yang banyak dilakukan sejauh ini masih ditemukan minimnya pengembangan desain ergonomi yang kontekstual dengan kebutuhan musisi Indonesia. Hal ini patut menjadi perhatian serius mengingat ukuran tubuh manusia Eropa, di mana semua itu dimulai, berbeda dengan rata-rata ukuran anatomi Asia khususnya Indonesia dan Asia Tenggara. Seperti yang diungkap dalam sebuah studi bahwa upaya penyesuaian kembali menjadi penting agar tujuan utama dari konsep ergonomi ini lebih tepat guna sesuai proporsi postur tubuh Asia (Shiddiqi & Lestari 2025).

Usaha penyesuaian kembali desain ergonomi gitar dalam studi tersebut yang mengacu pada postur tubuh Asia ini terbukti lebih relevan dengan pengguna di Indonesia. Rata-rata postur tubuh Asia lebih kecil di mana rata-rata tinggi pria Indonesia berkisar 163,5 cm dan  wanita 158,7 cm.

Mengingat adanya perbedaan ukuran rata-rata postur tersebut, beberapa penyesuaian ukuran yang dilakukan pada model Telecaster seperti perampingan body gitar yang berpengaruh pada bobot keseluruhan serta neck gitar yang berkaitan dengan kenyamanan posisi bermain dan aksesibilitas motorik. Studi yang dilakukan juga menyesuaikan model Stratocaster dan Les Paul yang lebih menekankan pengurangan bobot untuk meningkatkan mobilitas dan keseimbangan. Alhasil model-model baru yang dirancang dalam studi tersebut terbukti lebih responsif terhadap postur tubuh pengguna. Pengalaman bermain menjadi lebih baik dengan meningkatkan kinerja, kenyamanan bermain, serta membuka peluang daya saing industri alat musik lokal.

Referensi

Kumparan. 2021. Kisah Leo Fender, Raja Gitar Dunia yang Dulunya Pengangguran. Tanggal akses: 05 Juli 2025. Kisah Leo Fender, Raja Gitar Dunia yang Dulunya Pengangguran | kumparan.com.

Masterizki, H.G., Armanu, A. and Irawanto, D.W. (2019) “HOW ERGONOMIC FACTORS CONTRIBUTE TO EMPLOYEES’ PERFORMANCE”, Jurnal Aplikasi Manajemen, 17(2), pp. 227–234. doi:10.21776/ub.jam.2019.017.02.05.

Shiddiqi & Lestari. 2025. Eksplorasi Desain Gitar Elektrik: Inovasi Ergonomi dan Teknologi dalam Pengembangan Instrumen Musik. UNJ: Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni.

Yusuph, Mashala & Alman, Kisumbe. (2024). Work Environment and Job Performance: The Mediating Role of Office Ergonomics. Journal of Public Administration and Governance. 14. 78. 10.5296/jpag.v14i1.20125.

Abstraksi Magazine ini memuat wawasan mendasar tentang pelaku-pelaku musik, khususnya pendengar dan pemain musik, serta hal-hal yang mereka lakukan dalam kegiatan musikal.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.