Penulis: Henry Yuda Oktadus | 21 November 2025
Teknologi kecerdasan buatan merupakan salah satu inovasi paling mutakhir abad ini. Teknologi ini dapat membantu manusia menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih cepat dan efisien. Namun di samping manfaatnya, kelahiran teknologi kecerdasan buatan juga turut memunculkan persoalan yang dirasa merugikan beberapa pihak, terutama para kreator (seni visual, musik, sastra). Banyak orang telah menguraikan kepelikan yang terjadi seputar isu hak kekayaan intelektual para kreator yang karya-karyanya digunakan secara sepihak oleh perusahaan pengembang. Hal itu terjadi karena terdapat dua hal yang dirasa melanggar hak-hak para kreator. Yang pertama karena karya-karya mereka secara sepihak digunakan para perusahaan pengembang teknologi kecerdasan buatan sebagai materi pengembangan produk AI (artificial intelligence). Yang kedua, karya-karya mereka juga secara otomatis menjadi model dan referensi bagi teknologi kecerdasan buatan untuk menciptakan karya baru dengan bermodalkan promt dari masing-masing pengguna.
Namun di samping persoalan hak cipta karya-karya para kreator, sesungguhnya teradapat irisan lain terkait hak cipta yang dapat menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. Tidak lain yaitu hak cipta dari karya-karya hasil teknologi generatif. Produk musik hasil teknologi generatif tidak lepas dari isu ini. Persoalan hak cipta yang dimaksud akan menyentuh persoalan siapa yang kreatif di balik sebuah karya musik yang dihasilkan melalui teknologi generatif. Persoalan ini diajukan karena fungsi dan tujuan dari hak cipta adalah untuk melindungi upaya intelektual dan krativitas kreator. Sehingga jika sebuah karya musik dihasilkan dari sana, maka kekayaan intelektual dan kreativitas siapa yang mau dilindungi melalui hak cipta? Jika hal ini diabaikan, maka di kemudian hari akan terjadi sengketa antara perusahaan pengembang yang menyediakan teknologi generatif, para kreator terdahulu yang karya-karyanya dijadikan model, dan pengguna yang membuat prompt dan menghasilkan karya musik baru.
BACA JUGA : MOTIVASI MENJADI MUSISI
Watak dan pengertian yang melekat pada istilah ‘baru’ dapat kita jadikan titik berangkat untuk melihat dengan lebih jelas kaitannya dengan karya hasil teknologi generatif. Kebaruan dari sebuah karya musik (maupun yang lain) adalah output yang divaluasi. Dalam konteks komersial, kebaruan inilah yang menjadi objek perlindungan kekayaan intelektual. Klaim siapa yang menghasilkan kebaruan merupakan isu yang penting karena berkaitan dengan kepemilikan privat dari sebuah produk dan relasinya dengan nilai komersial yang melekat pada produk kreatif.
Nilai kebaruan dari sebuah produk menjadi sesuatu yang penting untuk dilindungi, lantas apa yang dimaksud dengan kebaruan dan dari mana asalnya? Kebaruan bisa menyentuh beberapa aspek seperti bentuk, cara, model, formula, hingga ide. Baru dalam hal ini berarti memuat sesuatu yang berbeda (original) dari produk yang pernah ada sebelumnya. Misalnya penambahan fitur yang dimungkinkan karena penerapan teknologi baru. Jika tidak ada satu corak pun yang baru dari sebuah produk, maka produk tersebut hanya merupakan tiruan dari produk yang sudah ada. Ponsel di tahun-tahun 90`an akhir hanya memilik fitur telepon dan pesan singkat. Ponsel di tahun 2000`an awal mulai mengembangkan teknologi GPRS yang memungkinkan sebuah ponsel dapat terhubung dengan internet, mengirimkan gambar, dan gambar bergerak (GIF). Dengan demikian ponsel dari tahun 2000`an awal memiliki kebaruan dengan adanya fitur tambahan tersebut.
Singkat cerita, kebaruan sebuah produk hanya terjadi melalui inovasi dan inovasi sendiri adalah buah dari usaha dan kemampuan manusia yang disebut kreativitas. Mengasilkan sesuatu yang berbeda (original) merupakan perwujudan dari kreativitas.
Akan tetapi orisinalitas sendiri dapat kita lihat sebagai sesuatu yang memiliki jenjang. Secara sederhana (dan kaku karena hanya untuk memudahkan ilustrasi) misalnya orisinalitas dapat kita bagi menjadi 3 tingkat: sedikit orisinil, orisinil moderat, hingga sangat orisinil. Karya musik yang sedikit orisinil misalnya, hanya berbeda dalam hal motif melodi dibanding musik dengan gaya serupa sebelumnya, sedangkan aspek lain seperti progresi akor, struktur ritmik, bentuk, format instrumentasi tidak banyak mengandung perbedaan. Musik yang sangat orisinil, di sisi lain, mungkin berbeda secara signifikan dalam hal motif, harmoni, bentuk, bahkan gaya atau genre yang pernah ada sebelumnya. Atau yang lebih ekstrim bahkan berbeda secara fundamental terkait konseptualisasi apa itu musik (Misal John Cage, karya ‘433’).
Kembali mempersoalkan output dari kecerdasan buatan generatif, apakah karya yang dihasilkan merupakan karya baru dan jika ya maka siapa yang sesungguhnya kreatif? Kecerdasan generatif terbukti dapat menghasilkan karya baru. Pada kasus karya tulis misalnya, output dari teknologi ini dapat menghasilkan sebuah tulisan dengan tingkat plagiasi yang rendah (di bawah 30%). Dengan berbagai kemungkinan kombinasi skema logis, penyusunan kalimat, pemilihan kosa kata, dan gaya bahasa yang pernah ia pelajari, karya tulis yang dihasilkan olehnya bisa menghasilkan banyak sekali variasi sekalipun dengan topik atau tema yang sama. Begitu juga pada karya musik, kecerdasan generatif dapat membuat musik baru dengan banyak alternatif kombinasi gaya dan genre, struktur, kecenderungan motif, pola ritme, kecenderungan harmoni dan pengembangan musik dari komponis atau lagu dari song writer. Dalam kasus tulisan, skor plagiasi yang jauh dari 30% mungkin dapat masuk sebagai salah satu indikator kreativitas dan sama halnya pada kasus karya musik. Akan tetapi pembahasan lebih mendalam mengenai sejauh apa orisinalitas yang dapat dihasilkan dari kecerdasan generatif tidak akan masuk dalam pembahasan di sini.
Produk kreatif dari kecerdasan generatif bisa dikatakan dibuat oleh beberapa pihak dengan perannya masing-masing. Kecerdasan generatif beroperasi melalui alogaritma atau serangkaian urutan instruksi untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya menghasilkan lagu baru. Instruksi yang dimaksud yakni belajar dari data, mempelajari pola, membentuk model-model, dan memprediksi dari input baru. Yang juga perlu dicatat ialah bahwa kecerdasan generatif tidak betul-betul berpikir seperti manusia melainkan menjalankan instruksi sistematis untuk mempelajari data serta memprediksi berdasarkan perintah yang diberikan. Pada tingkat ini kita bisa menilai bahwa kreativitas berasal dari para insinyur yang telah memprogram mesin alogaritma. Mereka membuat desain alogaritma yang dapat menjalankan tugas-tugas tertentu menyerupai kapasitas kognitif dalam mempelajari, mengolah informasi, dan membuat prediksi darinya. Data musik dan lagu yang tersedia dari berbagai platform atau setidaknya yang dizinkan untuk diakses kemudian dipelajari polanya, membentuk model-model alternatif dari kecenderungan yang bisa dideteksi, dan terakhir membuat prediksi dari instruksi generatif yang diminta. Pada tingkat ini kreativitas ada di tangan pengguna. Merekalah yang memberikan serangkaian instruksi kepada mesin generatif untuk menghasilkan karya musik baru. Memberikan perintah pada mesin generatif memerlukan keterampilan tersendiri. Pemahaman tentang cara kerja mesin generatif tentunya dapat membantu seberapa jauh si pengguna dapat memaksimalkan pengoperasian. Di samping itu pengetahuan menyangkut aspek-aspek yang terlibat dalam pembuatan musik dan lagu juga sangat menentukan. Kapasitas pengetahuan pengguna menyangkut kedua hal ini turut mempengaruhi kualitas output yang dihasilkan mesin generatif. Sehingga dapat kita lihat sesungguhnya output dari mesin generatif ini ialah karya kolektif dari kreativitas yang terfragmentasi atau terbagi-bagi dalam level kerja berbeda-beda. Kreativitas dalam karya musik yang dihasilkan tidak eksklusif berasal dari wawasan seorang pengguna tentang musik, melainkan juga dari wawasan insinyur tentang desain alogaritma, karya-karya komponis dan song writer yang digunakan untuk pengembangan model mesin generatif serta wawasan pengguna mengenai pembuatan instruksi yang rigid dan aspek-aspek yang terlibat dalam menciptakan karya musik.
Worksheet ini bertujuan untuk membantu kita agar lebih peka terhadap element-element utama musik ketika kita mendengarkan musik.
Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.