MUSIK KAMAR, SEBAGAI ALTERNATIF & PELUANG

Wawancara dengan ASEP HIDAYAT WIRAYUDHA: Chamber Music Festival & Musik Kamar Sebagai Sebuah Terobosan

MUSIK KAMAR, SEBAGAI ALTERNATIF & PELUANG. Sudah beberapa waktu berlalu sejak Yogyakarta Chamber Music Festival yang kesepuluh dihelat. Rangkaian festival kali ini terbilang komplit, mulai dari pagelaran musik kamar, masterclass, pameran & workshop dari luthier lokal, dan bazar musik. Sehingga banyak pihak turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, mulai dari musisi, pengajar musik, toko buku, toko alat musik, hingga pembuat instrumen musik.

Pada rangkaian konsernya sendiri banyak musisi turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut baik yang masih mahasiswa, alumni, pengajar, dan pemain profesional. Musisi muda berbakat serta musisi yang lebih senior sama-sama menampilkan penggarapan artistik yang memukau sesuai pengalaman dan porsinya masing-masing.

Namun dari pada itu, festival ini sendiri sesungguhnya menawarkan sesuatu yang terbilang unik. Sebabnya karena pentas musik yang secara spesifik hanya menampilkan format ‘musik kamar’ terbilang masih jarang, khususnya di dalam negeri.

Oleh karena itu tentunya terdapat beberapa hal menarik yang melatarbelakangi serta menjadi tujuan-tujuan dari penyelenggaraan festival dengan konsep semacam ini.

Tidak ingin melewatkan kesempatan itu, kami berkesempatan melakukan wawancara baik dengan pihak penyelenggara maupun dengan beberapa musisi senior yang terlibat.

Seri kali ini adalah hasil wawancara dengan Asep Hidayat Wirayudha sebagai pencetus dan inisiator Yogyakarta Chamber Music Festival.

Asep Hidayat Wirayudha sebagai pencetus dan inisiator Yogyakarta Chamber Music Festival.

......................................................

Q: Chamber Music Festival bisa dibilang cukup unik karena masih jarang sekali festival musik dengan konsep serupa di Indonesia.

  • Bagaimana awal mulanya festival ini dicetuskan?

Chamber Music Festival memang terasa tidak biasa (unik) diselenggarakan di Indonesia, namun sesungguhnya di Eropa dan Amerika adalah hal yang biasa diselengarakan dan menjadi agenda rutin, baik event bulanan, tahunan bahkan perhelatan musik kamar dikompetisikan. Di Indonesia hakekat musik kamar memang kurang begitu diminati baik oleh kalangan musisi profesional maupun amatir. Mereka cenderung lebih fokus minat pada orkestra.

Awal mula gagasan diadakannya Chamber Music Festival terinspirasi di acara The Australian Virtuous Ensemble, ketika saya menghadiri festival musik kamar di Queensland pada tahun 1996 sebagai partisipan.

Pada rangkaian festival tersebut, selain pertunjukan musik kamar, acara masterclass-worskhop pun digelar. Para artis kelas dunia datang dari berbagai negara Eropa dan Amerika sebagai guest star sekaligus memberikan mentoring untuk musisi-musisi muda berbakat.

Gagasan lain terinspirasinya Chamber Music Festival, berangkat dari mata kuliah Musik Kamar yang saya ampu di kelas. Hal itu juga yang menginspirasi terselenggranya Chamber Music Festival.

  • Apa yang membuat anda sebagai konseptor festival ini berpikir bahwa festival dengan format khusus musik kamar perlu dilakukan, khususnya di negara kita Indonesia?

Saya menulis artikel terkait musik kamar dalam buku ADI WARNA SUKA HARDJANA. Saya bahas dalam buku tersebut salah satunya yaitu: “Musik Kamar merupakan landasan dasar dalam bermain musik bersama”. Selain itu musik kamar menjadi hal yang paling penting perannya dalam khasanah musik baik dari perspektif pertunjukan maupun dilihat dari perspektif ekonomi, yang berpengaruh pada kualitas musik itu sendiri. Itulah konsep awal sekali mengapa diadakan Chamber Music Festival.

Dari faktor kesejarahannya, musik kamar mengacu pada pengaturan musik yang intim dari pada musik orkestra atau opera yang lebih megah. Saat mendengarkan musik kamar, kita cenderung mendengar kelompok instrumental atau vokal seperti halnya kuartet gesek atau mungkin penyanyi dalam ansambel dalam format kecil.

Musik yang dibuat untuk kelompok instrumental atau vokal itu memang sengaja dirancang untuk mengeksplorasi kemerduan ansambel sehingga seluk-beluk tekstur dan bentuk dapat dinikmati, dalam artian, musik kamar menentukan sifat musik yang ditulis.

Alih-alih panggungnya bisa bertempat di aula konser yang luas atau katedral, salon, lounge yang memang dirancang untuk formasi kecil dengan sendirinya memungkinkan terjalinnya suasana hubungan lebih “intim” antara pemain dan penonton sebagai karakteristik utama musik kamar. Inilah yang membuat daya tarik musik kamar mulai dari jaman Barok hingga saat ini.

Q: Apa visi dan misi anda sebagai pencetus sekaligus penyelenggara Chamber Music Festival?

Ada beberapa hal yang saya cita-citakan terkait dengan penyelenggaraan Chamber Music Festival, antara lain yakni, membangun ekosistem musik yang ideal antara pemain, komponis, penonton, dan kritikus, serta manajemen. Dengan harapan musik kamar dapat menjadi sebuah alternative genetic baru selain orkestra.

Q: Bagaimana perkembangan Chamber Music Festival dari tahun ke tahun sejak awal mula festival ini diinisiasi?

Awalnya memang tidak banyak yang berminat untuk bermain musik kamar. Namun seiring berjalannya waktu, animo pemain (mahasiswa di kampus dengan adanya mata kuliah musik kamar) terhadap musik kamar ternyata ‘poco a poco’ semakin banyak.

Terbukti bermunculan kelompok-kelompok musik kamar dengan berbagai macam format seperti: kuartet gesek, piano trio, kwintet brass maupun kwintet tiup kayu, bahkan orkes gesek maupun orkes tiup telah mengalami perkembangan cukup signifikan. Terlebih sejak banyak kelompok-kelompok musik kamar yang mengikuti pengalaman kompetisi di luar (negeri).

Q: Apa yang membedakan Chamber Music Festival 2022 ini dengan festival Chamber Musik sebelum-sebelumnya?

Secara prinsip tidak ada yang berbeda namun secara konsep ada perbedaan yaitu, dengan melakukan terobosan baru yakni mengundang para luthier lokal (gitar, string) untuk memamerkan (workshop) selama festival berlangsung. Itu menjadi point interest bagi para pengunjung maupun para musisi-musisi. Selain itu ada beberapa stand bazar, book store, stand penjualan audio berupa CD maupun dalam bentuk digital yang semuanya berkaitan dengan festival.

Pada Festival ke 10 ini, konsep kebaharuannya adalah melibatkan alumni dari Prodi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta dengan level profesional yang sudah bekerja di kantong-kantong kebudayaan yang mempunyai pengalaman dan reputasi dalam hal ihwal festival yang dimotori oleh Elgavasi Putrijati. Dengan demikian, harapan akan nilai ekonomi dalam membangun ekosistem cepat atau lambat akan terwujud.

Q: Chamber Music Festival hingga tahun 2022 ini sudah terlaksana untuk yang ke-10 kalinya. Apakah selama lebih dari 1 dekade ini harapan anda yang diusung melalui Chamber Music Festival sudah dapat dicapai?

Tentunya agak prematur bila mengatakan perhelatan Chamber Music Festival 1 hingga 10 telah berhasil. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu adanya sebuah evaluasi menyeluruh dan komprehensif dilakukan.

Namun sejauh yang sudah dicapai, bisa dikatakan berhasil bila dilihat dari guest star yang terlibat dalam festival ini. Sepanjang perjalanan CMF telah hadir 30 musisi profesional dari mancanegara yaitu musisi dari Amerika, Netherland, Belgia, Jerman, Perancis, Jepang, Korea, Yunani, Bangkok, Vietnam, Singapore, Malaysia serta musisi-musisi Profesional dari Indonesia.

Dari sisi repertoar pun boleh dikatakan cukup berhasil. Sebab menurut data dan dokumen festival, berbagai varian repertoar dalam musik kamar telah dimainkan dari Barok hingga kontemporer.

Sebagai catatan, gagasan memainkan komposisi baru dengan format musik kamar karya komponis Indonesia juga telah dilakukan dari perhelatan awal festival. Hal ini bertujuan untuk membangun ekosistem yang saya singgung di atas.

  • Jika sudah, apa lagi yang perlu dilakukan melalui kegiatan serupa agar dunia musik di Indonesia semakin berkembang?

Secara data, perkembangan musik (seni) di Indonesia memang cenderung meningkat secara perlahan. Terbukti dengan berjamuran lahir orkes-orkes di kota-kota besar. Secara ekonomi dampaknya sangat positif terutama bagi musisi-musisi.

Namun bila saya bicara mengenai kualitas mungkin agak sulit untuk menjawabnya. Sebab permasalahannya terletak pada bagaimana untuk membangun sebuah kelompok orkestra maupun musik kamar yang berkualitas?? Itu sama halnya dengan membangun peradaban dan kultur baru, yang mau tidak mau harus disadari bersama (ini juga sudah saya singgung dalam buku ADI WARNA SUKA HARDJANA).

Bagaimana dengan kelompok musik kamar profesional? Adakah yang konsisten dengan kelompoknya untuk berlatih, rekaman, dan konser? Nampaknya angan-angan itu masih saja saya idamkan. Mengapa hal itu tidak terjadi dalam musik kamar? Hampir semua musisi profesional lebih memilih orkestra. Saya berasumsi memang posisi (kelompok) musik kamar tidak pernah ada disebabkan beberapa faktor, salah satunya kultur dan ekonomi.

  • Jika belum, mengapa? Dan apa yang diperlukan agar harapan itu bisa tercapai?

Untuk membangun kultur dalam dunia musik kamar, seperti halnya orkes, memang dibutuhkan komitmen terutama dari musisi itu sendiri. Fokusnya adalah bagaimana musik kamar dikenal dan mendapat apresiasi masyarakat. Tanpa adanya festival ataupun konser musik kamar dilakukan tentunya mustahil musik kamar mempunyai posisi seperti orkes yang menjadi primadona bagi musisi.

.........

.........

Hemat saya sesungguhnya musik kamar bila ditafsir secara ekonomi sangatlah berpeluang dan berpotensi untuk meningkatkan secara ekonomi bagi musisi. Namun untuk memulai membentuk kelompok-kelomponya, musisi saat ini masih belum bisa meyakinkan diri sendiri melaui musik kamar.

Penonton, sudah sangat menunggu kiat-kiat terbaru melalui musik kamar dengan berbagai macam repertoar, baik reprtoar standar maupun repertoar lainnya seperti genre pop, tradisi, jazz yang dikemas dengan formasi musik kamar. Jadi siapa sesungguhnya yang belum siap..?

Panduan ini memuat wawasan mendasar tentang latihan beserta langkah-langkah penerapan cara berlatih yang efisien dan efektif untuk memperoleh keterampilan musikal yang optimal.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.