KENAPA KULIAH MUSIK?

Kenapa Kuliah Musik

Kuliah Musik

KENAPA KULIAH MUSIK?. Musisi adalah mereka yang terampil dalam memainkan dan membuat musik. Untuk memperoleh keahlian yang dibutuhkan menjadi seorang musisi, seseorang harus memiliki bekal teori, kreativitas, dan juga teknis. Lantas, di manakah tempat paling tepat untuk mengenyam pendidikan yang menunjang ketiganya itu?

“Mau jadi artis”, adalah satu alasan di antara banyak alasan mengapa seseorang memutuskan untuk belajar seni, termasuk musik. Bisa jadi, alasan ini adalah salah satu yang paling umum dari banyak kasus orang kuliah musik.

Bukan soal salah-benar atau baik-buruk, tetapi apakah jalur pendidikan yang kita ambil itu sudah relevan atau belum. Jalur pendidikan ada banyak macamnya. Masing-masing dengan metode dan konten pendidikan yang spesifik untuk mencapai keterampilan berbeda-beda.

Mulai dari kategori pendidikan formal-non formal, tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, serta jalur pendidikan vokasi, profesi, dan akademik.

Di antara banyaknya macam pendidikan itu, manakah yang paling relevan diambil jika seseorang ingin mendapatkan pendidikan untuk menjadi seorang artis, dalam hal ini musisi.

Sekilas Sejarah Pendidikan Musik

Menurut sejarahnya, lembaga pendidikan musik yang pertamakali ada bercorak pendidikan keterampilan. Salah satu yang tertua diinisiasi pada 1585 di Itali bernama Accademia Nazionale di Santa Cecilia.

Hingga abad-abad setelahnya mulailah bermunculan lembaga pendidikan musik yang terlepas dari institusi gereja, namun dengan corak yang sama bernama konservatori. Di samping konservatori juga muncul institusi pendidikan yang bercorak akademik.

Kalau pendidikan bercorak keterampilan menitikberatkan pada keahlian (katakanlah memainan instrumen dan membuat komposisi), maka corak akademik menitikberatkan pada kemampuan pengembangan ilmu. Maka dari itu, kompetensi yang ingin dicapai dari pendidikan akademik adalah riset, di mana teori adalah objek yang dikaji ataupun dikembangkan.

Gereja dan kerajaan adalah institusi yang pertama menggencarkan pendidikan keterampilan musik. Tujuannya terbatas untuk kepentingan mereka sendiri, seperti untuk ritual peribadatan, pesta pernikahan di kerajaan, atau sekedar untuk apresiasi para aristokrat.

Musisi profesional dalam konteks ini adalah orang-orang yang bekerja untuk institusi-insitutsi tersebut. Maka dari itu, pendidikan yang pertama kali diperlukan adalah corak pendidikan yang relevan menunjang keahlian musisi itu.

Modelnya sudah ada sejak berdirinya konservatori di berbagai wilayah di Eropa. Umumnya, pendidikan konservatori dimulai ketika calon peserta didik berumur sekitar 8-18 tahun. Namun dalam konteks di Indonesia kita berbicara tentang konservatori yang ditempuh pada jalur pendidikan tinggi, yaitu pendidikan vokasi (D1-D4).

Kompetensi Pendidikan Musik Vokasi

Supaya ahli memainkan atau membuat musik, maka konten pendidikan yang dibutuhkan lebih banyak pada praktik. Teori tentu saja masih diperlukan, namun teori yang langsung berkaitan untuk menunjang praktik.

Apa saja keterampilan praktik yang dibutuhkan setidaknya meliputi teori dan aplikasi, teknik, dan kreativitas.

Misalnya, untuk keperluan membuat komposisi seorang siswa perlu bekal teori musik sekaligus keahlian dalam penataan berbagai instrumen (katakanlah gesek atau tiup) pada komposisi format orkes. Supaya bisa ahli, setelah tahu teori maka latihan terus-menerus diperlukan supaya lancar secara teknis dan kreativitas pun terasah.

Sedangkan dalam hal memainkan musik, keterampilan yang diperlukan antara lain: cara memproduksi kualitas tone yang baik; apa saja teknik yang harus dilatih; bagaimana menginterpretasikan sebuah karya musik; bagaimana membedakan interpretasi gaya Barok dengan Romantik; bagaimana membentuk pemenggalan kalimat musik (frasering) yang tepat; dan lain sebagainya.

Abstraksi Magazine ini memuat wawasan mendasar tentang pelaku-pelaku musik, khususnya pendengar dan pemain musik, serta hal-hal yang mereka lakukan dalam kegiatan musikal.

Relevansi Kuliah Musik Bagi Musisi?

Supaya kita tahu di mana relevansi jalur pendidikan yang kita ditempuh, cukuplah untuk sekarang ini kita kaitkan saja dengan logika-logika yang paling umum.

Misalnya dengan cita-cita atau keinginan yang ingin dicapai ketika mengambil kuliah musik. Atau dengan karir yang ingin dirintis setelah selesai menempuh studi.

Artinya frame yang kita pakai di sini yaitu: bahwa tujuan orang kuliah adalah mendapat bekal keterampilan untuk meniti karir yang sesuai dengan keinginan calon peserta didik. Sebagai permulaan, kita andaikan kalau orang yang kuliah musik adalah mereka yang ingin berkarir sebagai musisi.

Skenario pertama, kalau ada orang yang bercita-cita ingin menjadi musisi kemudian ia memutuskan kuliah musik, berarti supaya relevan dia harus mengambil jalur pendidikan vokasi musik.

Skenario ke dua, setelah peserta didik tersebut selesai menempuh jalur pendidikan di atas, supaya pendidikan yang sudah ditempuh tidak sia-sia, maka seharusnya dia dapat berkarir sebagai seorang musisi.

Pemain musik profesional misalnya, adalah mereka yang pekerjaannya latihan, rekaman, dan pentas. Atau komponis, adalah mereka yang perkejaannya membuat komposisi, bekerjasama dengan pemain profesional, rekaman album, mementaskan komposisinya, dan mungkin termasuk bekerja dengan media dan studio film untuk membuat musik ilustrasi.

Selanjutnya, jika dua anggapan ini bisa dibenarkan maka setelah itu kita bisa bertanya: berapa banyak presentase dari keseluruhan total orang yang mengambil kuliah musik kemudian berhasil meniti karir sebagai musisi profesional? 80%?…50%?…30%?…20%?

Tolak ukurnya katakanlah, semakin besar presentase, berarti semakin sah dikatakan bahwa praktik pendidikan musik sudah berjalan dengan baik. Dalam arti sudah sesuai dengan orientasi kompetensi yang dituju, serta sesuai dengan ketersediaan market yang membutuhkan tenaga ahli yang dicetak.

Selain dua skenario di atas kita masih bisa mengajukan skenario lain yang berkebalikan. Bahwa mereka yang mengambil kuliah musik, sebagian besar memang tidak ada yang berniat berkarir sebagai musisi profesional. Sepertinya pendidikan tinggi musik di Indonesia juga kebanyakan adalah jalur akademik dan keguruan, bukan vokasi.

Kalau betul demikian, pertanyaannya adalah berapa banyak presentase di antara mereka yang mengambil kuliah musik jalur akademik kemudian berkarir sebagai akademisi atau peneliti? Dan berapa banyak presentase di antara mereka yang kuliah musik jurusan keguruan menjadi seorang guru musik?

Apabila sebagian besar jalur pendidikan tinggi yang diambil sudah sesuai keinginan sekaligus sesuai dengan karir kebidangannya, berarti bisa dikatakan praktik pendidikan sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Tetapi kalau tidak, ini menunjukan beberapa hal yang mungkin terjadi. Bisa juga kombinasi beberapa kemungkinan di bawah ini sekaligus:

  • Pertama, orang tidak tau relevansi jalur pendidikan musik yang mereka ambil.
  • Kedua, orang tidak mengetahui persis apa minat mereka saat memutuskan jalur pendidikan yang diambil.
  • Ketiga, mereka tidak tau cara meniti karir sesuai kebidangan yang diambil.
  • Keempat, tidak ada kesempatan kerja atau kurangnya market yang menyediakan peluang kerja sesuai kompetensinya.
  • Kelima, ada kesenjangan dan ketidakserasian di antara orientasi lembaga pendidikan dengan market (ketersediaan lapangan kerja), kurikulum, serta konten kuliahnya.

Penulis: Henry Yuda Oktadus

Referensi: Chilton, Martin. Recording Studio: A History of the Most Legendary Studios in Music. udiscovermusic.com | Wikipedia – Music School

Panduan ini memuat wawasan mendasar tentang latihan beserta langkah-langkah penerapan cara berlatih yang efisien dan efektif untuk memperoleh keterampilan musikal yang optimal.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.