EKSPRESI MUSIKAL DAN CELAH KREATIF MUSISI

EKSPRESI MUSIKAL DAN CELAH KREATIF MUSISI. Dahulu orang mengira bahwa pemain musik hanya berperan sebagai perpanjangan tangan komponis.

Dalam pandangan ini, pemain dianggap tidak memiliki peran kreatif. Ia hanya bertugas untuk mengeksekusi notasi-notasi pada score menjadi bunyi musikal dalam rangka menyampaikan pesan dari komponis di dalam score kepada audiens. Semacam “alat” musikal-nya si komponis.

Namun di sini, ada beberapa yang mengajukan pandangan lain, salah satunya adalah John Rink. Ia menawakan pandangan alternatif untuk melihat rantai komunikasi pertunjukan musik antara komponis, pemain, dan audiens.

Ia berpendapat bahwa melalui score yang dibuat oleh komponis, pemain juga merupakan pihak yang secara aktif ikut terlibat dalam menciptakan karya yang mereka mainkan.

Kondisi apa yang memungkinkan pemain musik dapat berbuat demikian? Melalui contoh-contoh di bawah ini, Rink ingin berargumen: karena dalam musik terdapat beberapa hal yang sifatnya elastis.

Pertama-tama ia mengilustrasikan melalui contoh karya Piano Sonata No.2 in B-flat minor komposisi Fryderick Chopin. Biasanya lagu ini dikenal dengan sebutan Funeral March.

Mood lagu-nya lambat, khidmat, dan murung, seolah menandakan bahwa lagu tersebut memang lagu untuk mengiringi upacara pemakaman. Tetapi di sisi lain, lagu ini sebenarnya tidak selalu dimaksudkan untuk dimainkan dalam upacara pemakaman, meski ada yang memperlakukannya demikian, misalnya pada pemakaman John F. Kennedy dan Lenoid Brezhnev.

Chopin menyebutnya sebagai Funeral March, tetapi kemudian hanya menyebutnya dengan sebutan March saja tanpa ada lagi keterangan Funeral.

Apa alasanya? Penafsiran Rink di sini menghantarnya pada suatu kesimpulan, bahwa suatu judul dan maksud yang melekat pada suatu komposisi akan ikut mempengaruhi fleksibilitas imajinasi pendengarnya.

Maksudnya, jika seseorang diberitahu bahwa lagu yang sedang diperdengarkan menceritakan tentang suatu hal (misalnya: upacara pemakaman), maka aspek-aspek musikal yang ditangkap pendengar akan diasosiasikan pada fenomena yang merujuk pada hal tersebut (pemakaman).

Jika seseorang diberitahu bahwa Piano Sonata No. 2 Chopin adalah tentang upacara pemakaman, maka orang tersebut akan mengidentifikasikan mood lagu yang lambat, khidmat, dan murung dalam lagu tersebut sebagai lambang kesedihan dan empati yang ditujukan bagi kematian seseorang yang akan dimakamkan dalam upacara pemakaman itu.

Namun sebaliknya, jika seseorang tidak diarahkan pada narasi tertentu yang dikandung suatu lagu, aspek-aspek musikal yang didengar akan dapat diasosiasikan dengan berbagai macam peristiwa yang berbeda-beda oleh tiap-tiap individu.

Mood lagu yang lambat, khidmat, dan murung dalam Piano No. 2 Chopin bisa saja diidentifikasi sebagai penanda peristiwa kesedihan lainnya selain tentang kematian atau upacara pemakaman.

............

Contoh kedua adalah pengalaman Rink ketika melihat pertunjukan piano solo dari Kate Liu ketika memainkan Concerto no. 1 in E minor pada kompetisi Chopin Piano International, pada tahun 2015 lalu.

Sementara seorang teman Rink terkagum-kagum melihat pertunjukan piano solo Kate Liu,  ia juga mendapati hal yang sangat berkebalikan bagi seorang teman lainnya yang juga menonton pertunjukan itu (merasa tidak terkesan).

............

Dari contoh ini kita dapat mengetahui bahwa ada subjektifitas yang tinggi pada tiap-tiap individu audiens dalam menangkap kesan suatu karya musik.

Contoh terakhir, adanya testimoni yang mengatakan bahwa Chopin tidak pernah memainkan komposisinya dengan cara yang sama sebanyak dua kali.

Ketika memainkan komposisinya sendiri, Chopin sering berimprovisasi layaknya komponis yang sedang membuat komposisi versi baru dari komposisinya yang sedang ia mainkan.

Sehingga sering ditemukan beberapa versi sekaligus dari satu karya yang sama milikinya.

Ini mengartikan bahwa score bagi seorang komponis seperti Chopin bukanlah titik akhir dari perjalanan suatu komposisi. Masih ada banyak kemungkinan dilakukannya semacam rekomposisi terhadap komposisi yang sebelumnya sudah jadi dibuat.

Oleh karena semua inilah, Rink mendukung pandangan yang melihat bahwa score bukanlah sesuatu yang absolut tetapi intangible, yakni masih dapat dieksplorasi walaupun dalam musik Seni Barat dan musik Jazz memiliki norma-norma dan konteksnya masing-masing.

Menurut Rink, bersamaan dengan adanya beberapa elemen yang intangible ini, kita dapat mendefinisikan sendiri apa yang membuat suatu pertunjukan saling berkelindan dan apa petunjuk atau orientasi yang bekerja berdasarkan kriteria yang kita gunakan.

Karena itu bisa dikatakan bahwa fiksasi pada musik tidak berlaku. Justru kualitas atau pemaknaan ditentukan sendiri menurut kriteria masing-masing individu komponis, pemain musik, dan audiens.

Berdasarkan penjelasan dan asumsi di atas, ketika pemain menerima informasi dari komponis berupa score untuk ditafsirkan menjadi bunyi musikal maka apa yang dipikirkannya besar kemungkinan tidak akan sama seutuhnya dengan pikiran komponis ketika berkreasi menciptakan komposisi tersebut.

Dalam Video: Penjelasan tentang perbedaan interpretasi dan Ekspresi Pemain Musik

............

Maka sekarang baru dapat dikatakan, bahwa pada score masih terdapat celah yang memungkinkan dilakukannya tindakan kreatif atas score tersebut oleh kreator lainnya, yakni pemain musik.

Score atau notasi tertulis kini malah menjadi titik awal dimulainya perjalanan tiada akhir, bukan sebagai sesuatu yang sudah utuh.

Penyelidikan dalam rangka melihat musik dari berbagai perspektif menjadi tiada berujung.

Dalam arti tidak ada jawaban tunggal bagi masing-masing pihak (komponis, penyaji musik, dan audiens/pengamat musik). Proses penyelidikan terhadapnya dianggap benar sejauh orientasinya mencari apa yang bermakna bagi musisi dan bagi seseorang yang ingin merespon musik. Bukannya untuk mencari jawaban yang tetap dan universal, namun lebih bersifat sementara.

Sumber : Jolin, Lucy. 2016. Let the Music Play – John Rink in CAM magazine. 

http://www.mus.cam.ac.uk/news.

Panduan ini memuat wawasan mendasar tentang latihan beserta langkah-langkah penerapan cara berlatih yang efisien dan efektif untuk memperoleh keterampilan musikal yang optimal.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.