MENONTON KONSER MUSIK KLASIK: PAKAI ATURAN?!

MENONTON KONSER MUSIK KLASIK. Lain tempat, lain kebiasaan. Kira-kira semboyan itulah yang harus kita ingat-ingat kalau kita hendak pergi ke tempat yang adat atau tradisinya berbeda. Bukan hanya soal tempat secara fisik, tetapi semboyan itu juga berlaku kalau kita hendak mencoba masuk ke bidang kegiatan yang kita sendiri masih belum akrab atau kenal. Kalau bidang seni gimana ya?

Aturan Menonton Konser Musik Klasik yang Dirasa Berlebihan

Bagi kalian yang sudah akrab menonton konser musik klasik pasti menyadari kalau biasanya ada larangan-larangan yang mesti ditaati.

Biasanya di awal acara, MC akan membuka acara dengan menyapa para penonton dan menceritakan sedikit tentang konser.

Tidak lupa, di bagian inilah MC akan membacakan sederetan aturan atau larangan-larangan itu yang berlaku ketika musik mulai dimainkan sang performer.

Para penonton yang belum akrab dengan konser musik klasik barangkali akan terheran-heran.

 

“Mengapa hanya mau nonton konser saja banyak sekali aturan dan larangannya?”

Tentu keheranan ini sangat wajar.

Mengingat tata cara konser yang dirasa terlalu berlebihan itu tidak lazim dalam konser-konser pada umumnya.

Adapun larangannya misalnya:

  1. Tidak boleh makan dan minum saat musik dimulai
  2. Tidak boleh menyalakan notifikasi ponsel
  3. Tidak boleh bicara, dan
  4. Tepuk tangan hanya boleh dilakukan ketika satu repertoar utuh sudah selesai dimainkan

Pasti terdengar canggung, berlebihan, bahkan mengerikan bagi mereka yang baru pertamakali mendengar sederet protokol itu.

Bayangkan! Bicara dan tepuk tangan saja tidak boleh!

 

“Apakah ini konser atau ospek?!”

Barangkali akan ada yang berkomentar seperti itu untuk mengekspresikan rasa heran dan keberatannya.

Apa Pentingnya Mengikuti Aturan Menonton Musik Klasik?

Lantas, apa alasannya sehingga konser musik klasik mesti menggunakan larangan dan aturan se”kaku” itu?

Sebenarnya, aturan-aturan itu dibuat supaya ketika musik dimulai tidak ada suara-suara lain selain musik yang sedang dimainkan. Dan sebenarnya demi kualitas bunyi yang pada akhirnya untuk didengar penonton sendiri.

Tujuannya supaya musik bisa didengar dan disimak dengan sebaik-baiknya, sejelas-jelasnya. Alasan lebih sepesifiknya bisa disimak di bawah ini.

Volume Suara yang Tidak Konstan

Dalam pertunjukan musik klasik, bisa banyak terjadi perubahan-perubahan yang sangat subtil dan mendetail. Misalnya:

  • Volume suara yang lantang bisa tiba-tiba menjadi sangat lirih seketika.
  • Volume suara yang sedang, kemudian perlahan-lahan semakin mengecil hingga suara habis tak terdengar.
  • Atau sebaliknya, dari volume suara sedang, semakin lama semakin kencang.

Ini baru soal volume suara. Belum lagi jika kita bicara perubahan tempo (lambat-cepat), artikulasi (detachelegato), timbre , dan aksentuasi.

Jika ada suara selain musik yang menginterupsi suara musik, maka bisa dipastikan detail perubahan-perubahan yang disebutkan di atas tidak bisa didengar.

Sehingga, aturan itu diperlukan agar setiap detail suara dan perubahan-perubahannya sekecil apapun bisa tampak dengan jelas.

Hanya Mengandalkan Perangkat Akustik

Musik klasik dimainkan mengunakan instrumen akustik. Produksi suaranya hanya bergantung pada besarnya suara yang dihasilkan dari instrumen dan akustik ruang konser.

Karena itu, seberapa besar-kecilnya suara musik yang terdengar oleh penonton hanya bisa bergantung pada akustik instrumen dan akustik ruangan.

Tentu, semakin baik instrumen, kualitas suara yang terdengar akan semakin baik. Termasik kejelasan tiap perubahan pitch, artikulasi, dan gradasi volume.

Demikian juga, semakin baik kualitas akustik ruangan, maka semakin baik juga suara instrumen akan dihantarkan pada pendengar.

Tetapi itu semua baru bisa optimal jika tidak ada suara lain yang menginterupsi suara musik.

Penggunaan Sistem Amplifikasi Suara

Tidak seperti yang terjadi pada genre musik lain, musik klasik jarang memanfaatkan bantuan teknologi amplifikasi suara.

Jikapun menggunakan, biasanya hanya sekedar untuk memperluas jangkauan rambatan suara.

Tetapi itu dilakukan sembari menjaga kesan alami suara akustik dari instrumen.

Sehingga amplifikasi suara tidak dilakukan secara berlebihan.

Sejarah Menonton Pentas Musik Klasik

Sebelum abad 19, sebenarnya situasi pertunjukan musik klasik juga serupa dengan yang terjadi pada pertunjukan musik genre lain hari ini.

Di mana orang dengan bebas mengapresiasi dengan bertepuk tangan atau berteriak antusias kapanpun mereka mau.

Para penonton juga bisa menonton dengan sikap bebas. Sambil berbicara sembari menikmati pertunjukan musik yang dipertontonkan.

  • MUSIK SEBAGAI HIBURAN

Pertunjukan musik pada masa itu dipraktikan untuk memenuhi fungsi hiburan.

Namun mulai abad 19, para komponis seperti Schumann, Mendelssohn, dan Wagner, mulai tidak puas dengan orientasi pertunjukan musik sebagai hiburan semata.

Tentu dengan hiruk-pikuk keramaian yang menyertainya.

  • MUSIK SEBAGAI SENI

Namun lebih dari itu, mereka juga ingin menggerakan para penonton lewat musik yang mereka buat.

Komponis ingin penonton menyimak dengan sungguh setiap detail keindahan dalam musik yang sudah susah payah mereka buat.

Wagner adalah contoh komponis yang menjadi salah satu figur kunci dalam perubahan tata cara menonton musik klasik.

Baginya, apresiasi penonton sebaiknya menyesuaikan musik yang dipentaskan.

Pertunjukan operanya ingin ia tinggikan. Bukan hanya sebagai event hiburan semata, tetapi sebuah drama sakral yang menuntut tingginya apresiasi.

Sehingga ia menuntut tata cara menonton yang demikian sunyi dan dingin.

Perkembangan Hari Ini

Tata cara menonton konser yang demikian disiplin lambat laun menjadi kebiasaan. Dan bahkan menjadi tradisi pentas musik klasik

Bukan hanya komponis yang menginginkan praktik semacam ini.

Namun bagi semua bagian dari ekosistem ini. Termasuk pemain dan masyarakat penonton penggemarnya.

Memang, kadang kala ada ketidaktahuan dari penonton yang belum terbiasa, bahkan baru pertamakali menyaksikan konser musik klasik.

Sehingga kadang masih terjadi penyimpangan-penyimpangan tata cara menonton yang diidamkan.

Seperti pengakuan Jacqueline Echols, seorang soprano anggota Washington National Opera.

Seorang soprano anggota Washington National Opera, Jacqueline Echols sedang menceritakan pengalamannya (Video: Jayne W. Orenstein | Grafik: Cameron Blake/The Washington Post)

Namun, cukuplah kita melihat keadaan semacam ini sebagai dinamika yang patut terjadi dalam proses pembiasaan tata cara menonton yang lebih baik.

Sehingga, yang perlu digencarkan adalah upaya sosialisasi seperti penyediaan informasi semacam ini yang bisa mendorong kemajuan praktik konser musik klasik sendiri.

Apa Lagi Info yang Perlu Diketahui Untuk Menonton Konser?

Selain tata cara menonton, di bawah ini ada juga tips cara mendengarkan yang mungkin bisa membantu saat menonton musik klasik di kemudian hari.

Tidak hanya itu, tips ini juga berguna untuk menjadi pemandu kita dalam mengapresiasi musik apapun.

Tips ini tidak lain adalah tentang cara mendengarkan. Apa yang Kita Dengarkan di Musik?

Oleh: Henry Yuda Oktadus

Worksheet ini bertujuan untuk membantu kita agar lebih peka terhadap element-element utama musik ketika kita mendengarkan musik.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.