SEMPAT VAKUM KARENA COVID, “ASCOLTATE” KEMBALI MENGADAKAN KONSER

KONSER ASCOLTATE

Sebuah program apresiasi musik bernama ASCOLTATE terbilang sudah banyak mengadakan konser secara rutin sejak tahun 2014. Biasanya kegiatan ini dihelat tiap dua bulan sekali di Concert Hall Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Sudah banyak sekali instrumentalis maupun vokalis dari berbagai tempat yang ikut andil mengisi program konser apresiasi ini.

Namun sejak pandemi covid-19 yang banyak membuat kepanikan merebak, sejumlah besar event termasuk ASCOLTATE harus menghentikan kegiatan dan jadwal-jadwal yang sudah disusun.

Untuk keluar dari kevakuman yang diakibatkan kondisi tersebut, maka jalan lain harus diambil oleh ASCOLTATE. Salah satunya dengan mengadakan konser secara virtual atau konser dalam jaringan (daring).

KONSER ASCOLTATE DARI LIVE KE DARING

Kebijakan pemerintah tentang kewajiban social distancing atau menghindari kerumunan mau tak mau menjadi semacam etika baru dalam masa new normal ini.

Mengadakan konser secara live akan melibatkan banyak orang berkumpul dalam satu tempat. Sehingga mengadakan konser secara live berarti tidak mengindahkan etika yang dibuat untuk kebaikan bersama ini.

Maka konser musikpun dialih-tempatkan dari ruang riil ke ruang virtual melalui bantuan jaringan.

Demikian yang dilakukan ASCOLTATE pada programnya yang ke-32 kemarin ketika menampilkan pentas solo cello Neam SR Hidayat. Pentas dilakukan melalui live streaming di kanal Youtube ASCOLTATE.

Neam S.R Hidayat

TIGA REPERTOAR, TIGA KONTRAS

Pada konser virtual tersebut, Neam mempersembahkan tiga buah repertoar yang cukup menarik dan sekaligus menantang kemampuan sang solis dalam hal teknik dan musikalitas. Masing-masing repertoar sangat khas dalam hal gaya, tonalitas, dan periodenya.

Kekhasan yang dimaksud bisa ditengarai dari fokus masing-masing repertoar ini. Sebagaimana yang kita tau tentang musik Johann Sebastian Bach, Suite No. 6 untuk solo cello yang dipentaskan Neam sangat mencolok dalam hal polifoninya.

Sedangkan yang paling kentara pada Caprice No.7 dari Alfredo Piatti adalah teknik permainan arppegio yang terus mengalir dari awal hingga akhir (min 20-24). Permainan arppegio yang konstan dari awal hingga akhir menjadi tantangan tersendiri bagi cellist terutama dalam hal teknik tangan kanan (bowing).

Memang tuntutan teknik tingkat tinggi semacam itu adalah hal lumrah bagi repertoar-repertoar dengan judul Caprice.

Biasanya repertoar dengan judul Caprice dibuat untuk memperlihatkan keahlian seorang instrumentalis dalam hal penguasaan teknik memainkan instrumennya.

Sementara itu nomor terakhir dari repertoar yang dibawakan Neam adalah Sonata untuk solo cello dari seorang komponis abad 20, Gyorgi Ligeti.

Yang paling menarik perhatian dari repertoar ini adalah kesan bunyi yang bisa dibilang sedikit lebih kompleks dari repertoar periode sebelum abad 19. Kesan bunyi yang demikian ini bisa terjadi karena perkembangan artistik yang terjadi pada abad 20.

Selain itu, hal menarik lainnya adalah kontras antara bagian pertama yang lebih melodius disambut gayuh pada bagian kedua dengan ekspresi yang lebih meluap-luap. Bagian ini menjadi semacam contrasting moment yang sangat menarik terlebih karena Neam bisa secara eksplisit memperlihatkan kontras suasana atau kontras musikal dalam repertoar ini.

Worksheet ini bertujuan untuk membantu kita agar lebih peka terhadap element-element utama musik ketika kita mendengarkan musik.

Dukung kami untuk menghasilkan konten-konten berbasis pengetahuan yang berkualitas.

Abstraksi musik adalah start-up media musik yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan ekosistem musik di Indonesia.

Download

Follow Abstraksi

© Abstraksi Musik.